two thousand and nine

ya..ya..ya..

1 tahun tidak ada yang baru dari blog ini (cuma beberapa bulan, tahunnya aja yang ganti padahal). 

Happy New Year 2009 (telat 1 bulan)

Apa yang anda habiskan di malam tahun baru? ke luar negeri? puncak? bali ? atau berduaan bersama orang yang anda sayangi (bukan pacar saja yang dimaksud, adek, kakak, salah satu dari orang tua anda yang salah satunya sedang dinas di luar kota sehingga anda berduaan dengan salah satu dari mereka, atau mungkin yang ada di depan anda sekarang)

Jujur saja malam tahun baru lalu, saya rayakan dengan berkeliling kota Jakarta dengan anak dari om saya, beserta keluarga juga. Malam itu tepat jam 10.30 pm, saya sedang asyik nonton harry potter and the goblet of fire di salah satu TV swasta di Indonesia. Akhirnya, kami memutuskan berkeliling ibu kota ini untuk meninggalkan masa lalu dan say ‘welcome’ di tahun kerbau ini. Saya sebenarnya lagi asyik nonton harry potter, akhirnya saya memutuskan pergi karena malam tahun baru 2008 saya habisi di rumah dengan hujan di luar sana. Lalu, menonton konser live di ancol yang ditayangkan di TV.

Malam tahun baru saya hanya saya diam di bundaran hotel akasia, tujuan sebenarnya adalah monas. Sebenarnya sih secara spontan memilih tujuan utama monas. Tadinya ancol maunya, karena jam 10.30 tidak mungkin keuber waktunya. Di bundaran hotel akasia itu, saya hanya diam melihat dari kaca mobil, berbagai kembang api, berbagai warna kembang api yang entah kenapa menurut saya biasa saja waktu itu, orang-orang yang senang dipinggir jalan menyambut tahun baru, keheranan orang menyalakan kembang api hanya berjarak 2 meter dari kepala orang karena salah sasaran. Yang menembakkan kembang api itu ternyata beberapa polisi yang bertugas mengamankan malam tahun baru.

Saya hanya diam, meniup terompet yang terbuat dari membran dan balon anak-anak yang bunyinya seperti kapal. Itu hanya beberapa kali saja, saya yakin 3/4 lebih dari seluruh dunia memikirkan apa yang ingin mereka capai atau biasa yang disebut resolusi. 

sampai saat menulis ini saya masih bingung apa resolusi saya di tahun ini

Itu yang saya bingung, mungkin salah satu impian saya adalah masuk SMA 61 yang menurut saya itu sekolah populer dan membutuhkan nilai akhir 35 keatas dari 4 mata pelajaran.

Saya menerima raport sekolah setelah libur lebih dahulu karena para guru sekolah saya sedang training, dengan nilai yang menurut saya sangat sangat kurang untuk masuk SMA tujuan saya itu.

Raport bimbel juga saya terima setelah try out di akhir tahun 2008, saya hanya mendapat peringkat 6 dari 81 siswa dengan rata-rata 7 sekian. Pada try out sebelumnya saya hanya peringkat 25. Saya tidak terlalu bangga.Karena, nilai rata-rata 7 sekian itu lebih dari 4 pelajaran. Matematika, bahasa indonesia, bahasa inggris, fisika, biologi, sejarah, geografi, ekonomi.

Saya lama tidak menulis lagi karena kelas 9 semester 2 dihabiskan waktu lebih banyak diluar dari di rumah. Mulai pendalaman materi, yang biasanya sabtu saya dirumah. Saya habiskan 5 jam lebih di sekolah di weekend itu. Guru PKN saya bilang “PM itu bukan paksaan, tapi kebutuhan”. Teman-teman sekelas saya, termasuk saya sendiri hanya diam merenung sejenak. Kami mengakui itu benar, itu semua demi kami siswa SMPN 117 Jakarta. Tetapi apa yang dilakukan kelas-kelas lain ?

Mereka bolos atau bahasa kasarnya cabut ke ‘warung’ yang sekitar 100 meter dari sekolah saya. Anda mungkin merasa biasa saja mendengar kata ‘warung’. Makanya saya kasih tanda kutip, warung itu adalah warung yang isinya anak-anak sekolah saya dan SMA swasta disebelah persis sekolah saya. Mereka hanya menghisap rokok, mungkin menenangkan diri agar tidak stres bahwa mereka akan menghadapi UN.

Saya pernah ke warung itu, hanya sebatas didepannya saja. Melihat warung itu saya sudah merasa suasana yang agak berbeda. Apalagi saya masuk. Saya kadang-kadang menunggu teman saya yang ada didalam situ untuk pulang bareng kerumah, kalau saya sangat capek. Karena teman saya yang saya tunggu itu membawa motor dan dititipkan di warung itu. Itu saja saya harus bayar 2x dari harga angkot. Karena kalau angkot saya masih jalan 200 meter, kalau dengan teman saya ini saya diturunkan di depan gang rumah saya.

Sebenarnya saya ingin menulis tulisan seperti ini tetapi semuanya lebih detail tidak saya campur dengan tulisan lain. Tapi resikonya yang besar, saya bisa di blacklist. Atau mungkin habis saat pulang sekolah.

Akhirnya saya ceritakan ujungnya saja (lebih lanjut akan saya pikirkan)

Kembali ke 2009

Ketika saya blogwalking saya singgah 15 menit di blog http://simplyiyo.com. Saya melihat tulisan ini Live High, Live Mighty. Saya melihat videonya, dan saya ingat sesuatu

Saya memperhatikan video itu, saya merasa itu ada di kehidupan saya. 

Dan memang benar itu ada di kehidupan saya saat ini.

Bukan mobilnya, perekam videonya, lagunya. 

Tetapi yang menaiki mobil itu, 2 laki-laki, 1 perempuan.

Itu yang saya rasakan di bimbel saya.

Jadi begini, saya itu duduk selalu bertiga (2 laki-laki termasuk saya, dan teman saya 1 lagi perempuan) dan duduk selalu di depan guru. Nilai selalu berubah-ubah diantara kami bertiga, kami selalu bersaing mendapatkan nilai terbaik diantara kami bertiga,  memang kami bertiga mempunyai nilai tertinggi di kelas (jieh) di banding anak yang lain di kelas itu. Kami selalu duduk bertiga ketika bimbel, tidak ada satupun yang menggangu. Hanya anak-anak belakang yang nilainya itu… Saya pasti akan malu mendapatkan nilai seperti mereka. Saya bukannya tidak pernah dapat nilai jelek, pernah tetapi bisa di itung dengan jari. Mereka sangat sering bahkan setiap bimbel mengganggu saya dan teman saya yang cowok, seperti mengatai kami berdua, menimpuk, bahkan kemarin sabtu 7 februari 2009 saya ditempeli stiker di baju saya tetapi saya tidak merasakannya karena sedang sibuk mengerjakan soal yang akan dimasukkan nilainya. Mereka duduk di belakang kami bertiga persis, malah bangkunya sengaja didekatkan. Mungkin yang menempelkan stiker ke saya itu, dia kesal karena tidak saya kasih contekan.

Ketiga anak itu adalah :

- Afif Saifi (SMPN 92)
- Margaretta (SMPN 52)
- Asad Dzakwan A G, saya sendiri (SMPN 117)

Tetapi ada yang berbeda dari video itu dengan kami, mereka naik mobil dan bernyanyi bersama. Sedangkan saya dan kedua teman saya itu ? Saya hanya membawa motor ke sekolah karena tidak ada yang pakai, si Afif sibuk PM disekolahnya dan pulang langsung ke bimbel, si Margaretta rajin tambahan di bimbel kami. Jadi, kami bertiga jarang bermain bersama. Ketemu saja di bimbel saja !. Kenal mereka saja saya dari bimbel itu.

Kalau di video itu kan, mereka bertiga menyanyi bersama di mobil. Kami bertiga ? video sedang tambahan pelajaran di bimbel ? menonton paku bumi di galian banjir kanal timur di samping bangunan bimbel persis ?

Kapan saya merasakan seperti di video itu ?

Salah satu dari kami bertiga, ketika tidak masuk. Pasti yang masuk bimbel diantara kami mempunyai 1001 pertanyaan kenapa tidak masuk.

Begitulah sedikit cerita saya di tahun baru ini.

 

 

 






Leave a Reply

Tags:

Comments protected by Lucia's Linky Love.

Recent Posts:

What kind of sense of humor do you have?
How much does a cake decorating course cost at Hobby Lobby?
Does anyone know if Hobby Lobby sells ready-made cloth dolls?
is there no way to start a model train hobby without a lot of money?
Do atheists have a better sense of humor than theists?

Related results on two thousand and nine

  1. 13 Moses commanded the people of Israel, saying, ?This is the land that you shall inherit by lot, which the Lord has commanded to give to the nine tribes and to the half-tribe. ... 4 The pasturelands of the cities, which you shall give to the Levites, shall reach from the wall of the city outward a thousand cubits [3] all around.5 And you shall measure, outside the city, on the east side two thousand cubits, and on the south side two thousand cubits, and on the west side ...

  1. In the year two thousand nine Lady Gaga had fd up style Kate & Jon in the checkout aisle We saw some people of walmart The mall cop to call was Paul Blart We all joined the cult of Snuggie And Susan Boyle is fugly Never had a New Moon ...

  1. 24 All the gold that was occupied for the work in all the work of the holy place, even the gold of the offering, was twenty and nine talents, and seven hundred and thirty shekels, after the shekel of the sanctuary. ... 29 And the brass of the offering was seventy talents, and two thousand and four hundred shekels. 30 And therewith he made the sockets to the door of the tabernacle of the congregation, and the brasen altar, and the brasen grate for it, and all the vessels ...